Sakit Gigi Saat Hamil


(Gambar: http://www.tentangibu.com/)

Sakit gigi pada ibu hamil memang sangat mengganggu, sakit gigi ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor antara lain kerusakan gigi, gigi sensitif, gingivitis, karang gigi dll. Berbagai macam obat bebas tersedia untuk penyakit gigi ini. Akan tetapi khusus untuk ibu hamil tidak boleh sembarang mengkonsumsi obat-obatan.

Bumil akan mengalami ketidakseimbangan hormon sebanyak 4 kali selama hidupnya yakni pada masa pubertas, menstruasi, kehamilan dan menopause. Ketidakseimbangan hormon pada kehamilan dapat menyebabkan masalah kesehatan diantaranya sakit gigi.

Saat merencanakan kehamilan disarankan melakukan pemeriksaan gigi dan mulut oleh dokter gigi. Tujuannya agar gigi yang tidak sehat dapat dilakukan upaya terapi yang tepat. Gigi yang berlubang dapat ditambal, gusi yang bengkak (gingivitis), karang gigi dapat dilakukan perawatan pembersihan karang gigi, sisa akar gigi yang tidak bisa dipertahankan mesti segera dicabut. Semua itu dilakukan sebagai bagian dari perencanaan kehamilan agar kelak ketika proses kehamilan itu berjalan tidak mengakibatkan gangguan kesehatan gigi dan mulut yang berimplikasi kepada kesehatan ibu dan janin.

Gigi Berlubang Saat Hamil

Dari gejala yang muncul akibat gigi berlubang pada ibu hamil adalah peradangan (bengkak). Bengkak bisa berdampak kurang baik bagi ibu hamil dan juga janin. Mengapa? Berikut ini adalah penjelasannya :

“Peradangan yang muncul sebagai akibat dari gigi berlubang tersebut disebabkan oleh kuman dan bakteri yang bersarang pada gigi. Peradangan pada gigi ini dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya. Bakteri dan kuman penyebab peradangan akan mengikuti aliran darah dan masuk ke janin.”

Cara Mengatasi

  • Berkumur Dengan Air Hangat
    Buatlah air hangat setengah gelas, kemudian tambahkan seperempat sendok garam dapur, aduk hingga rata. Gunakan larutan ini untuk berkumur setidaknya selama 1 menit. Dapat diulang 3-4 kali perhari 30 menit setelah makan. Selain dapat meringankan sakit gigi, juga dapat membantu membersihkan sisa makanan yang menempel pada gigi dan gusi.
  • Kompres Dingin/Es
    Disamping melakukan cara di atas, jika masih belum teratasi sempatkan juga untuk mengkompres dingin pada daerah pipi tepat di sisi luar gigi yang sakit. Untuk melakukannya bisa menggunakan es batu yang dilapisi kain atau menggunakan handuk bersih yang dicelupkan pada air es. Suhu dingin akan membantu meringankan rasa sakit. Jangan tempelkan es langsung ke gigi, karena hal ini akan membuat gigi semakin sakit, pulpa gigi yang meradang akan sangat sensitif terhadap suhu panas atau dingin secara langsung.
  • Obat Sakit Gigi topikal
    Penggunaan obat gigi oles yang langsung diterapkan pada gigi dapat dengan cepat meredakan rasa nyeri, obat tersebut diantaranya mengandung benzocaine dan minyak cengkeh yang akan meresap langsung pada jaringan gigi dan gusi yang sakit sehingga dapat meredakan nyeri dengan cepat. Obat sakit gigi ini bekerja secara lokal sehingga aman untuk ibu hamil.
  • Minum obat pereda nyeri
    Jika masih belum mempan juga, bisa minum obat pereda nyeri yang aman untuk ibu hamil dan dijual bebas tanpa resep. Sedangkan obat lain yang lebih ampuh, penggunaannya terbatas dan harus menggunakan resep dokter. Jenis yang bisa dipakai adalah paracetamol atau asam mefenamat.

Tanda-Tanda Air Ketuban Pecah

Apa itu Air Ketuban?

Air ketuban adalah air yang keluar dari vagina bumil yang merupakan sebuah tanda-tanda akan melahirkan mulai terlihat. Namun, sayangnya di saat ibu hamil, banyak cairan yang keluar dari vagina sehingga ibu-ibu hamil akan merasa bingung terhadap cairan yang keluar tersebut. Apakah itu air ketuban atau bukan.

Dan apabila air ketuban pecah, namun ibu hamil tidak segera memeriksakan diri bisa berakibat kurang baik. Bayi yang ada di dalam kandungan akan kekurangan cairan dan lemas di dalam kandungan. Operasi caesar pun harus dilakukan jika ketuban di dalam kandungan ibu hamil telah habis. Bayi yang lemas di dalam kandungan juga harus segera dikeluarkan agar tidak meninggal di dalam kandungan.

Fungsi air ketuban

Fungsi air ketuban adalah sebagai berikut ini:

  • Mempertahankan dan memberikan perlindungan terhadap perkembangan janin.
  • Membuat janin bisa bergerak bebas ke segala arah.
  • Menyangga janin di saat suhu panas maupun dingin.
  • Saat persalinan, air ketuban bisa memberikan kekuatan ibu untuk mengejan sehingga mulut rahim bisa terbuka.
  • Air ketuban sebagai pembersih jalan lahir pada bayi karena memiliki kemampuan sebagai densifektan dan juga bisa melicinkan jalan lahir.
  • Air ketuban bisa sebagai pendeteksi jenis kelamin, berapa tingkat kematangan paru-paru pada janin, golongan darah bayi serta adanya kelainan pada bayi. Cara pendeteksiannya adalah dengan mengambil air ketuban melalui alat yang disuntikkan ke dinding perut ibu.
  • Air ketuban sebagai cadangan cairan dan juga gizi ibu hamil bagi janin yang ada di dalam kandungan.
  • Mencegah tali pusar dari kekeringan. Tali pusar yang kekeringan akan menyebabkan tali pusar mengerut dan penyaluran oksigen akan terhambat menuju ke janin.
  • Inkubator bagi janin sehingga suhu tubuh janin di dalam kandungan akan tetap hangat serta tidak kedinginan.
    Membantu sistem pencernaan bagi janin di dalam kandungan.
  • Air ketuban bisa meratakan tekanan saat ibu hamil mengalami kontraksi sebelum persalinan.

Tanda-tanda Air Ketuban Pecah

  • Merasa ada cairan yang keluar
    Tanda pertama yang dirasakan oleh si ibu saat ketuban pecah adalah adanya cairan yang merembes keluar dari miss V dan rasanya seperti saat sedang menstruasi. Cairan yang keluar itu bisa sedikit atau banyak jumlahnya. Akan tetapi, terkadang tanda ini tak dirasakan oleh beberapa wanita.
  • Ada cairan yang menetes
    Tanda yang kedua ini lebih terasa dari tanda pertama. Cairan yang keluar tak lagi merembes, tapi menetes keluar dari miss V. Jumlah yang dikeluarkan juga lebih banyak dan hampir menyerupai saat buang air kecil. Cairan ini akan keluar lebih banyak jika Anda dalam posisi berdiri.
  • Merasa ada yang pecah
    Beberapa wanita merasa seperti ada gelembung yang pecah ketika ketuban itu keluar. Suara pecah yang tersebut terkadang juga membuat beberapa wanita jadi merasa gugup.
  • Keluarnya cairan hangat
    Jika sudah merasa ada gelembung yang pecah, maka si ibu hamil akan merasa ada cairan hangat yang keluar. Cairan yang keluar itu bisa sedikit dan bisa juga banyak seperti air seni.
  • Merasa ada yang menekan
    Bukan hanya cairan saja yang keluar dari miss V si ibu hamil, namun adanya tekanan di perut bagian bawah juga dirasakannya. Dan, pada saat inilah mulai terjadi pembukaan serta kontraksi.
  • Merasakan sakit yang hebat
    Beberapa kali kontraksi, tentunya rasa sakit akan meningkat dan tekanan akan semakin besar. Para ibu yang melahirkan normal mengalami pembukaan yang teratur. Namun, ada pula kasus di mana pembukaan hanya terjadi di pembukaan satu dan kemudian berhenti.

Itulah gejala-gejala saat ketuban pecah. Ketahuilah bahwa ketuban bisa saja pecah sebelum fase persalinan dimulai. Jika merasa ada rembesan air yang keluar dari miss V, maka Anda harus segera ke klinik atau rumah sakit terdekat agar mencegah terjadinya masalah pada proses kelahiran.

Tahap-Tahap Bukaan


(Foto: boldsky.com)

Tahukah ibu, berdasarkan fakta, hanya 5 persen wanita melahirkan tepat pada tanggal yang diperkirakan oleh dokter. Selebihnya, bisa saja wanita melahirkan lebih cepat atau lewat dari tanggal yang diprediksi.

Masa kehamilan sendiri berlangsung selama 9 bulan atau 42 minggu, tetapi bayi dianggap lahir tepat waktu jika berada dalam rentang waktu 37 hingga 41 minggu. Akan tetapi, terkadang wanita melahirkan bisa pada saat 40 minggu bukaan dua.

Menentukan Tanggal Kelahiran

Umumnya seorang dokter menentukan tanggal kelahiran dengan menghitung 40 minggu setelah tanggal menstruasi terakhir. Namun, memperhitungkan tanggal ini tidak mudah karena terkendala banyaknya wanita tidak sadar bahwa dirinya sedang hamil hingga satu bulan atau lebih. Cara lain untuk menghitung tanggal kelahiran adalah melakukan USG. Prediksi dokter bisa tepat jika usia kandungan yang ditentukan dari tanggal menstruasi terakhir sesuai dengan usia kandungan yang ditentukan lewat USG.

Rangkaian Bukaan Jalan Lahir

Dalam proses persalinan terdapat rangkaian bukaan jalan lahir yang terdiri dari 10 tahapan, yaitu:

Tahap Bukaan 1
Bukaan Satu merujuk pada 1 cm lebar jalan lahir yang sudah terbuka. Pada tahap bukaan I, mulut rahim mulai melebar 1 cm. Ibu hamil akan mengalami rasa mulas di perut dan rasa nyeri pinggang, kadang juga diikuti keluarnya sedikit darah dari vagina.

Tahap Bukaan 2
Lebar bukaan di leher rahim mulai bertambah, biasanya Ibu Hamil akan merasakan kram, mirip kram saat awal menstruasi. Bahkan beberapa ibu yang akan melahirkan juga merasakan kembung, mual dan pusing.

Tahap Bukaan 3
Tahap Bukaan Tiga ditandai dengan kontraksi yang dirasakan, semakin sering. Jeda waktu antar kontraksi yang dirasakan adalah 30 menit hingga 1 jam.

Tahap Bukaan 4
Mulut rahim pada Bukaan empat akan semakin tipis, dan biasanya pelindung air ketuban mulai pecah, sehingga air ketuban keluar melalui vagina.

Tahap Bukaan 5
Pada bukaan lima, posisi janin biasanya melintang dari pinggul menuju rongga panggul, sehingga menyebabkan calon ibu mengalami rasa sesuatu di bagian pinggang belakang.

Tahap Bukaan 6
Ibu Hamil mengalami kontraksi antara tiga hingga lima menit sekali.

Tahap Bukaan 7
Pada bukaan Ke tujuh, posisi kepala bayi sudah ada di bibir rahim.

Tahap Bukaan 8
Proses Pesalinan Tahap delapan Ibu hamil akan mengalami tekanan di bawah punggung, sebab posisi kepala bayi sudah semakin keluar di bibir rahim.

Tahap Bukaan 9
Pada Bukaan sembilan, kepala bayi sudah mulai kelihatan, di saat tahapan bukaan inilah Ibu mengalami rasa sakit persalinan yang paling tinggi.

Tahap Bukaan 10
Tekanan pada otot panggul memicu Ibu dalam proses persalinan untuk mengejan. Lakukan mengejan sesuai dengan petunjuk tenaga medis yang membantu proses persalinan. Karena apabila anda salah mengejan, sangat berisiko melukai jalan lahir anda. Dan setelah beberapa kali mengejan, buah hati anda telah sempurna datang ke dunia.

Jika Kelahiran Terlambat, saat usia kandungan memasuki minggu ke ­38, dokter akan memonitor kehamilan setiap minggu beserta ukuran bayinya. Namun jika waktu kelahiran tidak secara alamiah, misalnya sudah 40 minggu bukaan dua, dan berisiko pada kesehatan bayi, dokter akan menyarankan untuk melakukan induksi.

Solusio Plasenta (Plasenta Lepas)

Kali ini kita akan mengupas tentang kasus Solusio Plasenta (plasenta lepas) pada masa Kehamilan.

Solusio Plasenta adalah suatu keadaan dimana plasenta (ari-ari janin di dalam kandungan) yang letaknya normal TERLEPAS dari perlekatannya sebelum janin lahir. Biasanya dihitung sejak kehamilan 28 minggu (7 bulan).

Solusio plasenta itu sendiri masuk kedalam klasifikasi Perdarahan Antepartum (perdarahan sebelum kelahiran). Kelainan ini sangat berbahaya karena dapat mengakibatkan kematian ibu dan janin. Ini pun terjadi secara tiba-tiba, bukan perlahan-lahan dan proses menuju syok dan kematian sangat cepat. Kematian ibu bisa terjadi 5-10%, sedangkan untuk kematian janin sangat tinggi sampai 70-80%.

Ada teori yang menyatakan bahwa prognosis untuk kehamilan selanjutnya akan terjadi kembali dengan derajat yang lebih hebat dan bersamaan dengan persalinan premature. Jika terjadi kasus seperti ini harus segera menghubungi tenaga kesehatan terdekat.

Penyebab terjadinya Solusio Plasenta belum bisa diketahuai secara pasti, namun para ahli mengemukakan bahwa ia sering terjadi pada ibu yang mengalami penurunan tekanan darah secara tiba-tiba.

Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya Solusio Plasenta

  • Hipertensi
  • Kelainan pada ginjal
  • Tali pusat yang pendek (dapat terlepas jika janin bergerak terlalu aktif dan sering berubah posisi)
  • Anemia atau kurang gizi
  • Trauma langsung, seperti jatuh, kena tendangan atau benturan benda yang keras

Tanda dan gejala

  • Ibu mengeluh sakit perut yang tiba-tiba, ada kalanya Ibu tidak paham mengenai lokasi rasa nyeri tersebut
  • Perdarahan melalui vagina, ada kalanya terjadi perdarahan hebat berwarna hitam beserta bekuan-bekuan darah, tetapi tidak jarang ditemukan kasus darah tidak keluar karena leher rahim masih tertutup
  • Pergerakan janin mulai berkurang dari biasanya, bahkan bisa tidak ada sama sekali
  • Kepala ibu pusing, lemas, mual, muntah, pucat, pandangan berkunang-kunang
  • Ibu gelisah dan sering mengerang kesakitan atau menahan rasa sakit
  • Perut teraba tegang dan keras baik ketika ada mules maupun tidak mules
  • Bagian-bagian janin susah dikenali
  • Denyut jantung janin sulit diketahui, jika terdapat penurunan jumlah denyutan curigai plasenta sudah terlepas terlalu lama

Siapa Yang Berisiko ?

Plasenta Lepas bisa dialami oleh semua perempuan hamil, namun yang lebih berisiko adalah:

  • Ibu hamil dengan hipertensi/preeklamsia/eklamsia.
  • Pernah mengalami benturan pada kandungan.
  • Pernah melakukan pemutaran posisi janin.
  • Mereka yang memiliki tali pusat pendek.
  • Ketuban pecah sebelum waktunya.
  • Pengecilan yang tiba-tiba pada hidramnion atau kehamilan kembar. Pada kondisi hidramnion, volume air ketuban meningkat sehingga menekan plasenta ke dinding rahim. Demikian juga pada kehamilan kembar, rahim yang seharusnya berisi 1 bayi, ini ada 2 bayi atau lebih. Kondisi ini menekan plasenta ke dinding rahim.
  • Diabetes melitus terkadang dapat memicu kondisi ini. Dengan mengetahui faktor-faktor penyebab ini, Ibu hamil diharapkan dapat lebih meningkatkan kewaspadaan. Contoh, jika terdeteksi mengalami hipertensi, Ibu perlu menjaga agar tekanan darah dapat selalu dikontrol dengan baik. Bila posisi bayi tidak normal, seperti sungsang atau melintang, jangan mencoba memperbaiki dengan memutar posisinya. Hindari benturan pada perut. Juga tentu, selalu berhati-hati untuk tidak terjatuh. Hindari tempat licin dan perhatikan alas kaki yang Ibu gunakan.

Jika ibu-ibu menemukan salah satu gejala yang disebutkan di atas, segera hubungi tenaga kesehatan terdekat Anda. Dan apabila ibu pernah mengalami Solusio Plasenta pada kehamilan sebelumnya, diskusikan proses kehamilan serta persalinan selanjutnya kepada Dokter spesialis kandungan Anda.

Nyeri Pinggang Dalam Kehamilan

Nyeri pinggang adalah salah satu keluhan yang sering dirasakan ibu hamil. Keadaan ini menimbulkan rasa dengan taraf tidak nyaman hingga terasa mengganggu.

Yang perlu dipahami dalam hal ini adalah bahwa ini kejadian yang wajar dialami ibu hamil, tidak perlu dikhawatirkan dan umumnya tidak mengakibatkan hal yang serius. Rasa sakit ini akan hilang dengan sendirinya jika sudah melahirkan dan beban tubuh kembali seperti sedia kala.

Penyebabnya

Saat usia kehamilan bertambah maka berat kandungan meningkat. Dengan semakin membesarnya perut, beban di sekitar pinggang juga pasti meningkat, otomatis otot di sekitar pinggang bekerja lebih berat untuk menyangganya, inilah yang memicu terjadinya sakit pinggang, yaitu keadaan dimana otot mengalami kelelahan.

Bagaimana mengatasinya?

Jika ibu hamil terserang sakit pinggang, beberapa cara untuk mengatasinya adalah:

  • Segera istirahat, duduk dan tenang
  • Jika duduk kurang membantu, cobalah dengan berbaring
  • Pijat-pijatlah bagian otot yang sakit dengan rileks agar terasa nyaman
  • Mandi dengan air hangat juga bisa mengurangi nyeri pinggang
  • Lakukan senam ringan / peregangan otot pinggang

Sikap Untuk Mengurangi Terjadinya Sakit Pinggang

Beberapa hal di bawah bisa mengurangi kejadian sakit pinggang:

  • Terutama jangan berdiri terlalu lama
  • Jangan beraktifitas yang berat, seperti membawa atau mengangkat tas yang berat yang justru membebani pinggang
  • Bila tidur, cobalah memakai posisi miring
  • Hindari berganti posisi tubuh dengan mendadak / menghentak. Lakukan dengan santai dan berhati-hati
  • Jika ibu adalah karyawati yang harus duduk lama, cobalah untuk berdiri dan berjalan sejenak setiap jam
  • Jaga postur tubuh dengan baik, baik saat tidur, duduk dan berdiri
  • Beristirahatlah yang cukup
  • Jangan minum obat pereda nyeri sembarangan

Semoga bermanfaat.

Kelebihan Cairan Ketuban (Polihidramnion)

Apa itu Polihidramnion?

Polihidramnion adalah kondisi di mana ibu hamil memiliki cairan ketuban terlalu banyak. Dokter dapat mengukur jumlah cairan melalui beberapa metode yang berbeda, paling sering melalui pengukuran indeks cairan amnion (AFI) atau pengukuran kantung. Jika AFI menunjukkan kadar cairan lebih dari 25 cm (atau di atas persentil ke-95), pengukuran kantung dalam Polihidramnion dapat terjadi jika janin tidak menelan dan menyerap cairan ketuban dalam jumlah yang normal.

Pada dasarnya, polihidramnion merupakan bentuk komplikasi yang umum dialami ibu hamil. Sebagian besar ibu hamil dengan kondisi polihidramnion dapat melahirkan bayi yang sehat, namun disarankan untuk tetap tidak mengabaikan kondisi ini. Polihidramnion sedikit meningkatkan risiko janin lahir prematur, atau berada dalam posisi yang salah. Ibu hamil juga menjadi berisiko mengalami perdarahan setelah melahirkan.

Selanjutnya, Anda perlu tahu Apa penyebabnya.

Para ahli kesehatan belum mengetahui secara pasti apa yang menyebabkan terjadinya kasus polihidramnion. Namun ada beberapa penyebab secara umum baik dalam tingkat sedang sampai berat yang meliputi:

  • Diabetes. Ketika kadar gula dalam darah yang kurang terkontrol dengan baik sehingga mengakibatkan bayi yang ada dalam kandungan menghasilkan lebih banyak urine, yang berimbas pada meningkatnya volume air ketuban. Dokter biasanya akan melakukan tes toleransi glukosa untuk memeriksa kadar gula di dalam darah.
  • Memiliki hamil bayi kembar yang identik. Di mana dapat terjadi sindrom transfusi kembar-ke-kembar yakni keadaan di mana satu kembar memiliki cairan ketuban yang terlalu sedikit sementara yang lain memiliki air ketuban yang banyak.
  • Kelainan genetik pada bayi. Bayi mungkin memiliki masalah medis atau kelahiran cacat yang membuat bayi berhenti untuk menelan air ketuban, sementara organ ginjalnya terus menghasilkan lebih banyak urine. Contoh kondisi yang membuatnya sulit untuk menelan seperti stenosis pilorus, bibir sumbing atau langit-langit, atau semacam penyumbatan pada saluran pencernaan.
  • Kelainan genetikal. Memiliki kelainan seperti sindrom down atau sindrom Edwards.

Pada kasus yang langka yakni Anemia pada janin polihidramnion dapat menjadi tanda bahwa bayi mengalami anemia berat yang mana disebabkan oleh ketidaksesuaian darah (Rh). Masalah ini dapat diobati dengan cara transfusi darah ke dalam rahim. Seorang bayi yang mengidap anemia mungkin bisa saja sembuh tanpa melalui pengobatan.

Apa yang sebaiknya Anda lakukan..?

Sebaiknya lakukan pemeriksaan dengan USG secara rutin serta tes gula darah. Polihidramnion biasanya terdeteksi pada pemeriksaan antenatal setelah kehamilan berusia 7,5 bulan. Pada kasus yang jarang, polihidramnion dapat terjadi pada usia kehamilan 4,5-5,5 bulan. Jika perut Anda terasa membesar dengan cepat, segera periksakan diri ke dokter.

Hamil Anggur

Ada seorang calon ibu tercengang, kehamilan yang diharapkan ternyata hanya tipuan. Kebahagiaan menjadi calon ibu hilang dalam sekejap, dan ternyata itu si ibu sedang mengalami hamil anggur.

Pada tulisan kali ini saya akan menberikan penjelasan tentang apa sih hamil anggur itu (mola hidatidosa), apa ciri-cirinya, dan juga apa penyebabnya.

Apa itu hamil anggur?

Hamil anggur (mola hidatidosa) adalah kehamilan abnormal berupa tumor jinak yang terjadi sebagai akibat dari kegagalan pembentukan bakal janin, sehingga terbentuklah jaringan permukaan membran (vili) yang mirip gerombolan anggur.

Hamil anggur adalah tumor jinak yang terbentuk dari trofoblas (sel bagian tepi sel telur) yang telah dibuahi. Tumor ini melekat di dinding rahim dan menjadi plasenta serta membran yang memberi makan hasil pembuahan. Jenis tumor ini dapat menjadi ganas.


Sumber gambar: women-info.com

Lalu, Apa penyebabnya?

Secara medis, hamil anggur dapat terjadi karena tidak adanya buah kehamilan (agenesis), atau adanya perubahan (degenerasi) sistem aliran darah terhadap buah kehamilan pada usia kehamilan minggu ke 3 sampai minggu ke 4.

Penyebab lainnya yaitu terus berlangsungnya aliran atau sirkulasi darah tanpa adanya bakal janin sehingga mengakibatkan peningkatan produksi cairan sel trofoblas.

Hamil anggur juga bisa disebabkan oleh adanya kelainan substansi kromsom seks.

Ciri-ciri Gejalanya apa ya Dok..?

Sebenarnya hamil anggur mirip seperti perempuan yang hamil normal, yaitu terlambat haid, mual-muntah, dan sebagainya. Pemeriksaan tes kehamilan juga memberikan hasil yang positif.

Namun yang membedakan adalah, pada hamil anggur tidak terdapat tanda-tanda gerakan janin, rahim tampak lebih besar dari usia kehamilan sebenarnya, dan keluarnya gelembung cairan yang mirip buah anggur bersamaan dengan perdarahan melalui vagina.

Melalui pemeriksaan radiologis atau rontgen tidak terlihat adanya tulang janin, melainkan sesuatu yang mirip sarang lebah atau badai salju. Dan juga, pemeriksaan USG akan menghasilkan gambaran mirip badai salju dan tidak ditemukan adanya tanda-tanda denyut jantung janin. Pada hamil anggur, kadar HCG akan meningkat lebih tinggi daripada kadar HCG pada kehamilan normal.

Apakah Ada Faktor Resiko Hamil Anggur?

Terdapat beberapa faktor yang diduga bisa mempertinggi risiko seorang wanita untuk mengalami hamil anggur. Faktor-faktor risiko tersebut meliputi:

  • Usia ibu saat hamil. Risiko hamil anggur cenderung lebih tinggi untuk wanita yang hamil pada usia 40 tahun ke atas atau 20 tahun ke bawah.
  • Pernah mengalami hamil anggur sebelumnya.
  • Pernah keguguran.

Langkah Penanganan Hamil Anggur

Jika positif didiagnosis mengalami hamil anggur, dokter akan menganjurkan Anda untuk menjalani penanganan secepatnya. Ini dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi.

Operasi pengangkatan jaringan abnormal pada hamil anggur merupakan metode penanganan utama yang umumnya disarankan. Langkah ini dapat dilakukan melalui beberapa prosedur yang meliputi:

  • Kuret.
  • Histerektomi atau pengangkatan rahim. Proses ini hanya dilakukan jika Anda tidak ingin memiliki keturunan lagi.

Setelah menjalani prosedur pengangkatan, dokter akan mengulangi pemeriksaan kadar hormon HCG. Pasien yang masih memiliki hormon HCG biasanya membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Proses pemeriksaan HCG dilakukan tiap dua minggu selama setengah hingga satu tahun untuk memastikan tidak ada sel-sel abnormal yang kembali tumbuh dan memantau gejala-gejala dari penyakit trofoblastik. Sel-sel tersebut umumnya akan mati dalam rahim pada sebagian besar penderita. Tetapi jika terdapat indikasi dari penyakit trofoblastik, penderita akan membutuhkan penanganan melalui kemoterapi.

Selama menjalani proses pemantauan ini, pasien dianjurkan untuk menunda kehamilan. Sedangkan pasien yang menjalani kemoterapi umumnya akan kembali mengalami siklus menstruasi dalam setengah tahun setelah proses pengobatan selesai.

Hamil Di Luar Kandungan

Semua wanita bisa mengalami hamil di luar kandungan. Hamil di luar kandungan dalam ilmu medis disebut kehamilan ektopik. Kondisi ini terjadi ketika sel telur yang sudah dibuahi tumbuh di tempat yang salah. Kehamilan dikatakan normal apabila sel telur yang berhasil dibuahi bergerak dari saluran telur (tuba falopi) menuju ke rahim dan menempel di dindingnya. Namun sel telur justru tumbuh di luar rahim seperti di tuba falopi, rongga perut, ovarium atau leher rahim. Kondisi inilah yang disebut kehamilan di luar kandungan dan menimbulkan rasa sakit luar biasa. Bila tidak segera diatasi, saluran telur bisa pecah dan terjadilah pendarahan.


Sumber gambar: http://dfcmopen.com/item/ectopic-pregnancy-em-e-learning-module/

Apa penyebabnya?

Biasanya, hamil di luar kandungan terjadi karena kerusakan saluran telur (tuba falopi). Ini menyebabkan penyumbatan atau penyempitan saluran yang akhirnya menghambat telur mencapai tujuannya. Telur malah tertahan dan berkembang di saluran telur (tuba falopi). Bisa juga karena ibu hamil pernah terinfeksi, sehingga bagian tersebut terjadi penyempitan. Atau, adanya luka akibat operasi pada saluran telur. Bekas luka operasi ini bisa membuat saluran telur lengket atau menutup. Kehamilan di luar rahim ini juga disebabkan adanya endometriosis (jaringan yang mirip lapisan rahim yang ada di luar rahim) atau karena adanya kelainan bentuk dari saluran, semisal saluran sejak awal terpelintir.

Siapa yang beresiko mengalaminya?

Perempuan manapun bisa mengalami kehamilan di luar kandungan. Tapi, risikonya semakin meningkat pada mereka yang:

  • Mengidap penyakit radang panggul, akibat infeksi klamidia yang menular melalui hubungan seksual. Ini menyebabkan kerusakan saluran telur (tuba falopi).
  • Memiliki endometriosis tuba. Kondisi ini meningkatkan risiko luka dan perlengketan di saluran telur (tuba falopi).
  • Pernah mengalami pembedahan di bagian perut, misalnya operasi usus buntu atau operasi sesar.
  • Merokok. Sekitar 11 persen kehamilan ektopik disebabkan rokok.
  • Sudah pernah mengalami kehamilan ektopik. Pada perempuan yang memiliki riwayat ini, risikonya meningkat dari 1:100 menjadi 1:10 orang.
  • Hamil pada usia kurang subur (sudah cukup tua).

Apa gejala hamil di luar kandungan?

Biasanya, tanda-tanda awal kehamilan ektopik mirip dengan gejala menstruasi, seperti kram perut dan keluar sedikit darah. Anda bisa melakukan identifikasi lebih lanjut apabila muncul gejala-gejala, seperti:

  • Perbedaan warna darah. Darah yang keluar karena kehamilan ektopik biasanya berwarna lebih gelap atau lebih terang, juga lebih encer daripada biasanya.
  • Rasa nyeri yang hebat dan terus-menerus di satu sisi perut bagian bawah.

Bila kehamilan ektopik tidak terdeteksi sejak awal, maka ada kemungkinan saluran telur (tuba falopi) pecah karena terdesak oleh embrio yang semakin membesar. Gejala-gejalanya sebagai berikut:

  • Muncul rasa nyeri yang parah di seluruh bagian perut secara tiba-tiba.
  • Berkeringat, merasa pusing atau hampir pingsan, diare, atau ada darah dalam feses Anda.
  • Pingsan atau syok akibat pendarahan yang parah.
  • Nyeri pada bahu. Ini terjadi apabila pendarahan internal sampai mengganggu organ-organ lain.

Bila mengalami gejala-gejala di atas, apa yang harus dilakukan?

Secepatnya harus pergi ke rumah sakit untuk dirawat secara intensif oleh dokter. Lebih cepat Anda memeriksakan diri, risiko pendarahan parah akan semakin kecil. Setibanya di rumah sakit, Anda akan menjalani tes kehamilan, pemeriksaan panggul, dan ultrasound (USG) untuk melihat kondisi rahim dan saluran telur (tuba falopi).

Apakah dapat terulang di kehamilan berikutnya?

Risiko Anda kembali mengalami kehamilan ektopik adalah 10 persen. Namun jangan berpikir dari segi negatifnya. Dari segi positifnya, berarti kesempatan Anda untuk mendapatkan kehamilan normal adalah 90 persen.

Kesempatan ini tergantung dari kondisi sisa tuba yang Anda miliki serta jenis operasi yang Anda jalani ketika menangani kehamilan ektopik sebelumnya.

Keguguran Berkali-Kali??? Mungkin Uterus Bicornis

Dari judulnya sudah diketahui bahwa ini hanyalah salah satu kemungkinan dari penyebab kasus keguguran berulang, jadi ada penyebab lainnya.

Yang dimaksud keguguran berulang adalah apabila ibu mengalami keguguran pada trimester pertama dalam 3 kali kehamilan secara berturut-turut.

Hal lain yang bisa diakibatkan dari uterus bicornis adalah sulit hamil.

Nah … sekarang kembali ke uterus bicornis. Yang dimaksud uterus bicornis adalah keadaan dimana bentuk rahim dimana tempat janin berkembang bentuknya ada 2. Atau gampangnya rahimnya ada 2 dan terpisah satu dengan lainnya.

Bagaimana Kejadiannya

Kejadiannya pada saat si wanita, saat masih janin (masih dalam kandungan). Ini terjadi karena proses penyatuan rahim, pada saat pembentukan rahim, tidak sempurna. Dengan kata lain ini adalah kelainan bawaan.

Gejala Dan Keluhan

Wanita tidak merasakan keluhan apa-apa walau mengalami uterus bicornis. Haid seperti biasa, haid juga tidak sakit. Tahunya nanti kalau si wanita hamil.

Penyebabnya

Tidak diketahui secara pasti. Diduga karena kombinasi faktor genetik dan lingkungan. Untungnya tingkat kejadiannya sangat jarang, menurut statistik hanya 0,1%, atau 1 dari 1000 kejadian.

Macamnya

Uterus bicornis terbagi menjadi 2 macam:

  1. Uterus bicornis unicolis: keadaan dimana ada 2 rahim yang terpisah kanan dan kiri, cervix / leher rahim tetap 1
  2. Uterus bicornis bicolis: keadaan dimana ada 2 rahim yang terpisah kanan dan kiri, namun cervix / leher rahim juga ada 2, baik liang vagina hanya 1 ataupun ada 2

Gambarnya

Di bawah disajikan contoh USG dari uterus bicornis.


Gambar Uterus Bicornus
Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=ytP_GLWsd98

Bagaimana Menyembuhkannya

Selama tidak menimbulkan keluhan atau gangguan, kondisi ini tidak perlu dikoreksi. Namun bila menyebabkan gangguan, bisa dilakukan koreksi dengan operasi untuk memperbaiki sekatnya.

Kandungan Lemah

Apa kabar? Semoga Anda dan keluarga semua sehat ya…

Kali ini kita akan membahas tentang kandungan lemah.

Dalam dunia medis, kandungan lemah adalah adanya gangguan pada leher rahim (serviks) yang disebut dengan inkompetensi serviks. Tanda­-tandanya berupa adanya pendarahan / flek­-flek pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu.

Angka kejadian keguguran spontan ini dilaporkan antara 8 – 20 persen pada wanita yang belum pernah punya anak sebelumnya, dan menurun sekitar 5 persen pada wanita yang sudah pernah punya anak. Setelah kehamilan lebih dari 15 minggu, angka kejadian menurun hingga sekitar 0,6 persen.

Penyebab keguguran spontan lebih dari 50% adalah karena kelainan kromosom janin (cacat bawaan), sehingga keguguran spontan dianggap sebagai proses quality control kehamilan, apabila kurang baik akan dikeluarkan. Sehingga tidak banyak anak lahir dengan kelainan kongenital.

Hingga saat ini belum ada makanan yang dapat membantu untuk menguatkan kandungan. Bumil diberikan obat­-obat hormonal yang dikatakan sebagai penguat kandungan. Apabila sudah diberikan obat ini dan tetap keguguran, maka kemungkinan besar (> 50%) karena kelainan janin.

Berikut beberapa kemungkinan penyebab kandungan lemah:

  1. Akibat faktor bawaan atau keturunan
  2. Proses kuret yang membuat trauma sehingga menghasilkan efek samping pelemahan serviks
  3. Penyakit kolagen (di mulut rahim ada zat kolagen dan ini salah satu faktor risikonya)
  4. Akibat adanya infeksi dari luar rahim.

Sebenarnya kalau 1-2 kali keguguran itu masih bisa dianggap normal, tapi kalau kegugurannya terjadi sebanyak 3 kali secara berturut-turut maka harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui apa penyebab dari keguguran tersebut.

Pemeriksaan yang dilakukan bisa berupa tes darah dari kedua orangtua untuk melihat kromosomnya atau bisa juga menjalani pemeriksaan ACA (anticardiolipin) yaitu pemeriksaan kekentalan darah. Jika sang calon ibu terkena sindrom ACA, maka darahnya akan cepat mengental yang mengakibatkan aliran darah ke janin terhambat sehingga janin kekurangan zat gizi dan oksigen.

Penyebab keguguran yang paling besar adalah akibat kelainan kromosom yang disebabkan oleh orangtuanya yaitu sekitar 60%. Kelainan ini disebabkan karena saat proses pembuahan tersebut sel telur atau spermanya tidak bagus. Faktor risiko untuk kelainan kromosom ini terjadi pada perempuan di atas usia 35 tahun dan laki-laki diatas usia 55 tahun. Sedangkan penyebab keguguran lainnya adalah adanya infeksi yang terjadi saat usia kehamilan masih muda, kasusnya sekitar 20-30 persen.

“Untuk mencegah keguguran, ibu hamil harus istirahat cukup. Jika mengalami flek sebaiknya ibu hamil istirahat total di rumah saja”. Jika penyebab keguguran sudah diketahui dan bisa diobati dengan baik, maka ibu tersebut boleh hamil lagi asalkan sudah selesai masa nifas dan fungsi reproduksi bekerja dengan baik kembali.